Jurnalistik

Jurnalistik MTsN 33 Jakarta

Rabu, 21 Agustus 2013

OSIS PELARIANKU

 (Septi Noviyanti | Pengurus OSIS MTsN 33 Jakarta  )
" Ya udah lo kagak usah tinggal di rumah, pergi sono !" begitu kata-kata kasar yang keluar dari  ayahku sambil menampar kedua pipiku dengan keras tidak hanya itu hp ku dibanting dan kartu sim cardku di patahkannya. Sakit banged perasaanku kala itu tanpa peduli mendengar ocehannya, aku langsung aja keluar rumah sambil mengajak teman-temanku. Aku itu tidak seperti yang ayahku bayangkan. Mengapa sih dia begitu cepat berfikir negatif tentang diriku. Aku ingin dimengerti, aku masih muda aku hanya ingin berkumpul bersama teman-temanku. Akhirnya akupun keluar dari rumah sambil membawa perasaan sedih campur kesal luar biasa.Kejadian itu buatku berfikir dan lebih dewasa, akhirnya akupun sadar dan kembali kerumah.
Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara ini bukan membuatku jadi anak yang dimanja.Hidup sederhana tidak membuatku menghilangkan rasa syukurku terhadap kedua orangtuaku. Ayah merupakan sosok yang baik, walau kadang suka marah-marah. Tapi aku sadar ayah sosok yang paling baik untukku.Di sekolah  aku bukan siswa yang menonjol bahkan aku pernah mendapatkan omelan karena kenakalanku bercanda di kelas saat guru sedang mengajar.
Ketidaknyamanan di rumah, aku bawa pada kegiatan-kegiatan. Akupun masuk OSIS dan Paskibra.  Aku ingin lari dari segala beban dalam benakku. Kegiatan OSIS yang paling bikin aku jadi punya tanggung jawab adalah ketika Pembina OSIS mempercayakanku menjadi Ketua KPU waktu itu OSIS sedang melaksanakan pemilihan ketua OSIS baru. Rasa tanggung jawabku mulai tumbuh, kepercayaan yang diberikan dari pembina OSIS tak kusia-siakan. Selama 1 tahun aku menjadi pengurus OSIS, motivasi dan kepercayaan diriku mulai tumbuh, aku terasa memiliki keluarga,ngobrol bersama-sama, saling berbagi cerita kadang rada-rada gosip sih. Selain di OSIS aku juga aktif jadi anggota Paskibra MTsN 33 Jakarta, Kebanggaanku tumbuh saat aku berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di sekolah pada pembukaan MOS dan peringatan 17 Agustus 2013. Rasa haru mengalir saat bersama-sama teman paskibra usai mengibarkan bendera tersebut.
Impianku muncul membayangkan aku menjadi pengibar bendera di Istana Negara. Mungkin ini hanya mimpi tapi aku berharap banged untuk itu.
Ayah, maafkan aku, selama ini aku terlalu egois hanya memikirkan diri sendiri, tapi ayah aku bener-bener sayang ayah. Aku berharap bisa menjadi orang kaya, aku ingin belikan rumah buat ayah. Aku ingin buat bangga ayah.Aku tahu tamparan dipipi aku bukti bahwa ayah sayang banged ama aku, ayah tidak ingin putrinya menjadi putri yang nakal dan suka keluar
malam. Aku sadar ayah. Dan terimakasih buat teman-temanku, sudah perhatian lebih untukku.

0 komentar:

Posting Komentar